The One That Got Away




Sometimes you promise someone forever but it doesn't work out that way.
In another life, I would make you stay. So I don't have to say, you were the one that got away...

Web Labil


Nih website, kadang bisa dibuka, kadang nggak bisa. Kayak ABG aja labil

Error


Nih website error mulu, kapan bisa nulis-nulis lagi coba...capek d

Akhirnya


Akhirnyaaaaa....Bisa juga nulis-nulis lagi setelah sekian lama nggak bisa di akses nih web, terharu saia...

KEPUASAN DAN PENDERITAAN


"Mengapa orang tidak bahagia? Karena mereka mendapatkan
kepuasan yang janggal dari penderitaan mereka," kata Sang
Guru.

Ia menceritakan bagaimana ketika suatu kali ia berada di
tempat tidur bagian atas di sebuah kereta api, pada suatu
malam. Ia tidak bisa tidur, karena dari tempat tidur bawah
seorang wanita terus-menerus mengeluh, "Oh, betapa hausnya
saya ... Aduh, betapa hausnya saya."

Terus-menerus suara keluhan itu terdengar. Akhirnya, Sang
Guru turun ke bawah, berjalan melalui gang sepanjang kereta
api, mengisi dua cangkir besar dengan air, membawanya dan
memberikannya kepada wanita malang itu.

"Bu, ini ada air."

"Oh, baik sekali Anda. Terima kasih."

Sang Guru kembali ketempat tidur. Ia menyamankan badannya
dan ketika hampir pulas dari bawah terdengar lagi suara
keluhan, "Oh, betapa hausnya saya tadi... Aduh, betapa
hausnya tadi."

(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)

TUHAN Dan Hujan, Aku Sedang Jatuh Cinta!


Saat itu aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat hujan turun dan mengeluarkan suara rintiknya yang lembut menyejukan. Entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya yang menerawang. Aku seakan menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Hari itu, malam itu, aku seperti mengenalnya sejak dulu. ersenyum aku jika teringat malam itu. Akankah malam itu kembali? Aku tak tahu.

Pernah jemarinya menggengam jemariku, rasanya bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku, cintaku tidak terbang mengawang tetapi tetap di tanah dan melihat tinggi ke awan. Mengagumi keindahan langit karena jika aku dilangit aku tak tahu keindahan langit. Ia mengajarkanku kesederhanaan. Dari sekian lama yang kuperoleh hanya kepalsuan material yang membosankan dan fana. Tapi lain dengan cinta yang ia tawarkan. Ia menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan terus menggerogoti hatiku.

Aku takut hatiku mati habis digerogoti ketidakpercayaan yang semu. Aku takut
aku tidak lagi bisa mencinta. Aku takut aku tidak lagi bisa percaya. Akankah Ia menunggu hatiku untuk mencair dari kebekuan rasa curiga? Sampai kapan ia mau menunggu? Aku tak mau ditinggal sendiri. Ini terasa menyedihkan. Menyayat. Terasa menjadi pendosa karena memalingkan wajah dari cinta. Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri. Aku takut. Aku tak mau. Betapa inginnya hati ini menyerahkan serpihan intannya tetapi bagian diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan hati nuraniku yang tak lagi kudengar?

Pernah saat matanya mengawang kosong dan wajahnya tampak lusuh. Seperti ada yang terbebani dalam kalbunya. Ingin kuusir rasa penatnya. Ingin kurangkuh dia dalam dekapku. Ingin kuhibur. Saat penatnya datang. Kutatap wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya. Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar, kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia akan tesenyum. Tersenyum. Hanya itu yang kucari dalam dirinya. Agar ia bahagia dan tersenyum.

Entah apa yang dia lihat dari diriku. Aku merasa kecil jika dibanding dengan yang lain. Aku tak percaya dia menyerahkan hatinya untukku jaga. Apakah aku pantas menjadi dewi yang menjaga hatinya? Bagaimana jika aku memecahkan hatinya yang bening itu? Aku takut. Aku tak pantas. Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku tak bisa sekali saja jujur terhadap perasaanku sendiri!

AKU INI SEDANG JATUH CINTA, TUHAN!!

PERBUATAN TANPA PAMRIH


Beberapa orang bertanya kepada Sang Guru, apa yang dia
maksudkan sebagai "perbuatan tanpa pamrih." Ia menjawab,
"Perbuatan yang dicintai dan dilakukan demi perbuatan itu
sendiri, tidak demi pengakuan atau keuntungan atau hasil."

Kemudian ia menceritakan tentang seseorang yang disewa oleh
seorang peneliti. Orang itu dibawa ke halaman belakang dan
diberi sebuah kapak.

"Apakah kamu melihat batang pohon yang terletak di sana itu?
Saya ingin agar kamu memotongnya. Syaratnya, kamu hanya
boleh menggunakan bagian punggung dari kapak itu, bukan
bagian yang tajam. Kamu akan mendapatkan 100 dolar per jam
untuk itu."

Orang itu berpikir bahwa peneliti itu sinting, namun upahnya
menggiurkan, maka mulailah ia bekerja.

Dua jam kemudian ia datang dan berkata, "Pak, saya berhenti
saja."

"Ada apa? Bukankah kamu suka bayaran yang akan kamu peroleh?
Saya akan melipatgandakan upahmu!"

"Tidak, terima kasih," kata orang itu. "Bayarannya baik.
Tetapi kalau saya memotong kayu, saya harus melihat
kepingan-kepingan kayu beterbangan."

(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)

APAKAH ALLAH ADA?


"Katakan kepada saya," kata seorang ateis, "apakah Allah itu
sungguh-sungguh ada?"

Jawab Sang Guru, "Jika kamu menginginkan saya
sungguh-sungguh jujur, saya tidak akan menjawab."

Para murid penasaran mengapa ia tidak menjawab.

"Karena pertanyaannya tidak dapat dijawab," kata Sang Guru.

"Jadi, Guru juga ateis?"

"Tentu saja tidak. Orang ateis membuat kesalahan karena
menyangkal kenyataan yang tidak mungkin dijelaskan."

Setelah diam sejenak, ia menambahkan, "Dan orang teis
membuat kesalahan karena mencoba menjelaskannya."


(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)