Sometimes you promise someone forever but it doesn't work out that way. In another life, I would make you stay. So I don't have to say, you were the one that got away...
"Mengapa orang tidak bahagia? Karena mereka mendapatkan kepuasan yang janggal dari penderitaan mereka," kata Sang Guru.
Ia menceritakan bagaimana ketika suatu kali ia berada di tempat tidur bagian atas di sebuah kereta api, pada suatu malam. Ia tidak bisa tidur, karena dari tempat tidur bawah seorang wanita terus-menerus mengeluh, "Oh, betapa hausnya saya ... Aduh, betapa hausnya saya."
Terus-menerus suara keluhan itu terdengar. Akhirnya, Sang Guru turun ke bawah, berjalan melalui gang sepanjang kereta api, mengisi dua cangkir besar dengan air, membawanya dan memberikannya kepada wanita malang itu.
"Bu, ini ada air."
"Oh, baik sekali Anda. Terima kasih."
Sang Guru kembali ketempat tidur. Ia menyamankan badannya dan ketika hampir pulas dari bawah terdengar lagi suara keluhan, "Oh, betapa hausnya saya tadi... Aduh, betapa hausnya tadi."
(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)
Saat itu aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat hujan turun dan mengeluarkan suara rintiknya yang lembut menyejukan. Entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya yang menerawang. Aku seakan menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Hari itu, malam itu, aku seperti mengenalnya sejak dulu. ersenyum aku jika teringat malam itu. Akankah malam itu kembali? Aku tak tahu.
Pernah jemarinya menggengam jemariku, rasanya bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku, cintaku tidak terbang mengawang tetapi tetap di tanah dan melihat tinggi ke awan. Mengagumi keindahan langit karena jika aku dilangit aku tak tahu keindahan langit. Ia mengajarkanku kesederhanaan. Dari sekian lama yang kuperoleh hanya kepalsuan material yang membosankan dan fana. Tapi lain dengan cinta yang ia tawarkan. Ia menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan terus menggerogoti hatiku.
Aku takut hatiku mati habis digerogoti ketidakpercayaan yang semu. Aku takut aku tidak lagi bisa mencinta. Aku takut aku tidak lagi bisa percaya. Akankah Ia menunggu hatiku untuk mencair dari kebekuan rasa curiga? Sampai kapan ia mau menunggu? Aku tak mau ditinggal sendiri. Ini terasa menyedihkan. Menyayat. Terasa menjadi pendosa karena memalingkan wajah dari cinta. Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri. Aku takut. Aku tak mau. Betapa inginnya hati ini menyerahkan serpihan intannya tetapi bagian diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan hati nuraniku yang tak lagi kudengar?
Pernah saat matanya mengawang kosong dan wajahnya tampak lusuh. Seperti ada yang terbebani dalam kalbunya. Ingin kuusir rasa penatnya. Ingin kurangkuh dia dalam dekapku. Ingin kuhibur. Saat penatnya datang. Kutatap wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya. Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar, kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia akan tesenyum. Tersenyum. Hanya itu yang kucari dalam dirinya. Agar ia bahagia dan tersenyum.
Entah apa yang dia lihat dari diriku. Aku merasa kecil jika dibanding dengan yang lain. Aku tak percaya dia menyerahkan hatinya untukku jaga. Apakah aku pantas menjadi dewi yang menjaga hatinya? Bagaimana jika aku memecahkan hatinya yang bening itu? Aku takut. Aku tak pantas. Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku tak bisa sekali saja jujur terhadap perasaanku sendiri!
Beberapa orang bertanya kepada Sang Guru, apa yang dia maksudkan sebagai "perbuatan tanpa pamrih." Ia menjawab, "Perbuatan yang dicintai dan dilakukan demi perbuatan itu sendiri, tidak demi pengakuan atau keuntungan atau hasil."
Kemudian ia menceritakan tentang seseorang yang disewa oleh seorang peneliti. Orang itu dibawa ke halaman belakang dan diberi sebuah kapak.
"Apakah kamu melihat batang pohon yang terletak di sana itu? Saya ingin agar kamu memotongnya. Syaratnya, kamu hanya boleh menggunakan bagian punggung dari kapak itu, bukan bagian yang tajam. Kamu akan mendapatkan 100 dolar per jam untuk itu."
Orang itu berpikir bahwa peneliti itu sinting, namun upahnya menggiurkan, maka mulailah ia bekerja.
Dua jam kemudian ia datang dan berkata, "Pak, saya berhenti saja."
"Ada apa? Bukankah kamu suka bayaran yang akan kamu peroleh? Saya akan melipatgandakan upahmu!"
"Tidak, terima kasih," kata orang itu. "Bayarannya baik. Tetapi kalau saya memotong kayu, saya harus melihat kepingan-kepingan kayu beterbangan."
(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)